SHALOKALINDONESIA.COM, SINGKAWANG- Jika ingin belajar kehidupan toleran, Singkawang adalah kota tujuan yang tepat. Setidaknya dua kali kota ini menerima gelar sebagai wilayah paling toleran di Indonesia. Ada banyak resep diterapkan di kota itu, salah satunya adalah peran makanan. Sebagaimana penelitian yang dilakukan Sri Sudono Saliro, dosen di Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin, Sambas, Kalimantan Barat.

Peran makanan dalam toleransi ini bermula dari konsep rumah makan itu sendiri. Ada beberapa rumah makan, dikelola beberapa orang dari suku dan agama berbeda. Menu yang mereka sediakan juga beragam. Meja tempat menikmati beragam menu itu, adalah meja-meja besar dimana konsumen dari aneka latar belakang akan duduk bersama. Sembari makan, obrolan pun tercipta tentang keseharian mereka.

Kalau di Singkawang ini orang ngumpul, dan itu letak toleransinya di meja makan. Dengan menghidangkan beberapa menu di meja makan, itu nanti pembeli pun juga akan berbaur,” kata Sudono kepada VOA.

Proses obrolan di meja makan dari konsumen beragam latar belakang inilah yang bertahun-tahun membentuk masyarakat toleran.

Menurut data yang ada, Singkawang mayoritas didiami warga suku Tionghoa dan dari sisi agama, mayoritas beragama Islam.

Selain toleransi yang dibangun melalui interaksi keseharian di warung makan, peran makanan juga nampak dalam perayaan hari besar. Dalam perayaan hari raya, umat beragama akan saling berkirim makanan khas masing-masing. Tugas pengantaran makanan ini diserahkan ke anak-anak, untuk mendidik mereka arti perbedaan.

“Nah, anak itu sudah terdidik sejak kecil. Masyarakat sendiri memiliki tradisi yang mendorong mereka untuk berbaur,” ujar Sudono.

Di luar itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya kerukunan juga berperan. Namun, Sudono meyakini, tradisilah yang membentuk masyarakat Singkawang sebagai komunitas yang toleran. Sikap toleran itulah yang melahirkan banyak produk hukum, seperti peraturan daerah atau peraturan wali kota, bukan sebaliknya.

Namun, Sudono mengakui, riak-riak kecil dalam yang mengganggu toleransi kadang tetap muncul. Dalam posisi seperti inilah aparat, pemerintah, produk hukum atau bahkan tugu toleransi, tidak bisa memecahkan masalah.

“Di Singkawang, tumbuh kembangnya sikap gotong royong, saling menjaga toleransi beragama itu melekat. Itu penguat dari Singkawang, bukan unsur dari luar. Apa yang hidup di masyarakat itu lebih penting,” tegas Sudono.

Kulonprogo, dan banyak wilayah lain di Indonesia, memang harus belajar lebih kepada Singkawang. Namun, sekali lagi, setiap wilayah juga tidak boleh kehilangan kepercayaan, bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya toleran. (shalokalindonesia.com/voa)

Editor: Erma Sari, S. pd
Ket foto: Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Kota Singkawang di malam hari, 21 Desember 2010. (Foto: Wikipedia/Wibowo Djatmiko)

Iklan
Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *