FEATURE, shalokalindonesia.com- Daun-daun gugur menderai. Menutupi bangku yang ada di sisi utara sebuah taman yang berjarak tak jauh dari sebuah jalan. Jalan itu tak pernah lepas dari pandanganku. Pohon-pohon mahoni yang kemarin tingginya tak lebih tinggi dari pohon ceri itu sudah lama ditebang. Bunga-bunga yang sewaktu aku datang masih berbaris rapi membentuk tulisan ‘Taman Kaca’ kini lemas tak beraturan.

Di sisi langit barat, banyak awan yang menggantung berkerumun. Abu-abu warnanya. Matahari yang tadi seakan menyeringai panas, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai malam ini. Angin bertambah kencang. Air-air mulai turun perlahan. Saluran irigasi kembali pada pekerjaan semula. Aku pergi ke seberang jalan depan taman untuk berteduh di depan toko bangunan. Aku heran, pada cuaca seperti ini masih ada saja orang yang bepergian termasuk aku jalan kini basah kuyup. Banyak genangan di sana-sini.

Aku yang ingin menunggu seseorang yang kupanggil Risma. Aku selalu menunggunya di taman itu setiap televisi memberitakan akan datangnya hujan lebat. Badanku terasa dingin. Bajuku basah tersiram air yang dicipratkan oleh mobil yang lewat dari arah barat tadi.

Tiba-tiba ada seorang lelaki tampan idaman para wanita berpeci hitam ikut berteduh di sebelahku. Bajunya basah kuyup setelah diguyur hujan yang baru saja turun.

“Permisi Kak. Bolehkah saya berteduh di sini bersama mbaknya?” tanya lelaki itu seketika membuat aku tersadar dari lamunanku.

“Boleh saja kak teritisan ini masih bisa menampung kita berdua.” Aku bergeser sedikit ke kiri, memberikan isyarat kepada lelaki itu agar berteduh di sebelahku.

Aku kembali memandang jalan dan pemandangan perasaanku mengatakan bahwa hujan akan turun cukup lama.

“Hujannya mulai deras,” ucapanku membuka pembicaraan setelah kami berdua terdiam sekitar sebelas menit.

“Iya, sepertinya hujan akan turun cukup lama,” jawabnya ramah. Gigi-gigi yang berderet rapi membentuk sebuah senyum yang hangat.

“Kalo boleh tau nama kakak siapa ya”tanyaku.

“Nama saya Hendra kak”jawabnya sambil tersenyum.

“Owh salam kenal ya dan perkenalkan nama saya Indah”ucapku.

“Iya kak salam kenal juga”jawabnya.

Benar saja, hujan turun bertambah deras. Gaduh air yang mengalir ke atap kami terdengar menggerutu. Langit sepertinya sedang sangat bersedih entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Beginilah saat hujan turun mengguyur, aku yang bebas menjadi tahanan yang dikurung di dalam rinai-rinai air yang telah diuapkan oleh matahari siang tadi.

Kami berbincang-bincang seperti laiknya orang yang baru saja bertemu dan baru saja berkenalan. Dia bercerita tentang kesibukan yang sedang ia lakukan. Aku pun sama, aku menceritakan sedikit tentang kegiatanku menulis buku.

Tiba-tiba lelaki itu Hendra menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat aku begitu bingung.

“Bagaimana menurutmu tentang hujan?” sederet kalimat tanya muncul dari sela-sela bibir lelaki itu

“Aku sangat suka hujan,Hujan selalu memberiku keceriaan” jawabku dengan muka bahagia.

“Bagiku, hujan itu terlalu kejam,” sebuah pernyataan keluar dari mulut lelaki tanpan itu .

“loh kok gitu kan hujan itu seru kita bisa bermain bersama nya seperti waktu kita kecil . Burung-burung pun sangat menyukainya,” pangkasku.

Aku tak terlalu paham mengapa lelaki itu menganggap hujan sebagai sesuatu yang kejam. Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hujan?

Kami kembali terdiam dalam kerasnya suara hujan bersama petir yang kuat.

Di dekat toko bangunan tempat kami berteduh, ada sebuah kedai kopi yang tak cukup ramai. kedai kopi itu menjadi salah satu tempat destinasi untuk para penikmat malam.

“Bagaimana kalau kita ke sana, ke kedai kopi? Mungkin segelas kopi bisa menemani kita sembari menunggu hujan reda,” seruku mengajak lelaki itu bernama Hendra menuju kedai kopi di sebelah toko tempat kami berteduh.

“Hm?” sahut lelaki itu sambil mendekatkan telinganya ke bibirku meminta pengulangan.

“Mari ke kedai kopi ku dengar ada jenis kopi baru yang kini menjadi minuman favorit orang-orang,” nadaku bertambah tinggi. Aku tak berniat memarahinya, hanya saja suara hujan begitu gaduh. Suaraku menciut dibuatnya.

“Boleh,” jawab lelaki tampan itu menyetujui.

Lelaki itu berjalan di samping ku sembari menggendeng tangan ku tak mau kehilangan Langkah kami beriringan mencari tempat kering yang tidak tergenang air. Tak terasa, kami sudah berada di depan pintu masuk kedai itu. Gedungnya cukup bagus, terlihat seperti bangunan yang mencolok mata. Di depannya tertulis ‘Kedai Kaca’. Tanpa pikir lama, kami masuk, dan terdengar bel yang menandakan ada pelanggan yang datang.

Di dalam kedai, hanya ada beberapa orang yang saling berpasangan. Raut wajah mereka menyiratkan rasa terima kasih kepada hujan. Mungkin karena hujan, mereka bisa menghabiskan sedikit waktu untuk bersama dengan seseorang yang mereka kasihi.

Dua gelas kopi hangat kami pesan untuk sekadar menghangatkan tubuh yang kedinginan karena hujan dan angin yang turun secara bersamaan. Lelaki itu Hendra perlahan mencicipinya. Tangan yang tadinya menggigil kedinginan, kini sudah terlihat sedikit mendingan. Mungkin karena hangatnya kopi telah merasuk ke dalam aliran darahnya lalu aku berkata sejenak.

“Maaf kak Hendra kalo boleh tau engkau asal dari mana”tanyaku.

“Owh aku dari palembang maaf ya aku lupa menyebutkanya tadi”ucapnya.

“Owh alah”jawabku.

Kami tenggelam pada sebuah dialog yang hangat. Hujan di luar tak kunjung reda. Rintiknya semakin menjadi-jadi, hembus anginnya sekin kencang namun, syukurlah karena kami menemukan sebuah kedai kopi yang hangat di dalamnya.

Setelah empat puluh lima menit, kami kehabisan pokok pembicaraan. Lelaki itu kembali terdiam, begitu pula dengan aku. Kembali, suasana menjadi asing bagi kami berdua. Ku lihat di luar jendela kaca, hujan semakin menjadi-jadi. Gemuruh yang menggelegar menggetarkan kaca kedai. Ingin sekali aku kembali berbincang dengan Hendra seorang lelaki berpeci tampan yang baru ku kenal tadi. Mungkin hujan bisa jadi pokok pembicaraan yang menarik bagi kami berdua.

Setelah cukup lama kami berdua terdiam memandangi jalanan di luar yang basah, ku beranikan untuk menyambung pembicaraan.

“Oh iya, tadi kau berkata jika hujan itu kejam? Mengapa bisa seperti itu?” aku berpindah posisi ke sebelah jendela dan mataku tak pernah terlepas darinya.

“Hujan pernah merebut seseorang dariku. Beberapa tahun lalu, seorang wanita soleha pernah berkata kepadaku bahwa aku ini seperti hujan yang rintiknya menyejukkan mata siapa saja yang memandangnya. Aku sungguh mencintai hujan saat itu. Tapi setelah beberapa lama, wanita itu pergi entah ke mana. Mungkin dia sudah menemukan hujan yang lebih menyejukkan hatinya daripada aku. Selepasnya, hingga saat ini aku tak lagi terlalu menyukai hujan,” wajahnya berpaling dari jendela, lalu menatapku. Dia terlihat sedih. Matanya yang tadinya sayu, kini berkaca-kaca memperlihatkan kerinduan yang teramat sangat pada seseorang.

“Owh kamu yang sabar ya lupakan saja yg sudah berlalu sekarang bukalah lembaran yang baru”ucapku menasehati.

Wanita itu Indah sepertinya aku mulai tertarik padanya. Baris giginya yang putih tertata rapi. Besit senyumnya sungguh manis melebihi gula-gula. Aku menyukainya.

Rasa benciku kepada hujan, sepertinya akan berangsur-angsur menghilang. Sebab dengan hujan kali ini, aku bertemu dengan Hendra Seorang lelaki tampan manis senyumnya. Tanpa sadar, ia tak lagi memikirkan wanita yang ia cintai dulunya lagi. Mungkin hujan sengaja mengurungku bersama Indah di hari ini. Terima kasih hujan, untuk waktu dan kesempatan yang kau berikan kepadaku saat harapanku kepada Lala sudah sampai pada puncaknya. Setidaknya, setengah hati yang Lala tinggalkan akan menemukan pasangannya kembali.

Aku heran, sudah satu jam setengah hujan tak kunjung reda. Mungkin siang tadi, matahari sedang terik-teriknya. Atau mungkin laut yang sedang jahil-jahilnya sehingga mengganggu matahari yang sedang cemburu kepada gunung-gunung yang selalu mendapat perhatian dari angin muson yang berhembus manja.Hendra tak pernah melepas pandang kepadaku Indah.

“kakak kasihan lelaki itu. Dia kehujanan,” seruku membangunkan Hendra dari lamunannya.

“Tidak, mungkin dia menyukai hujan. Atau mungkin ia sedang menunggu orang yang dicintainya.”

“Mana mungkin ada orang yang rela duduk di bawah rinai hujan yang lebat ini?” tanyaku penasaran.

“Mungkin saja. Aku pernah seperti dia. Aku pernah duduk berjam-jam hanya untuk menunggu seseorang. Sudah aku katakan kepadamu tadi kan? Aku pernah mencintai hujan dengan sangat,” jawabannya sungguh mengguncangku.

“Ha-ha. Ternyata kita sama-sama menyerah soal tunggu-menunggu, kakak?”

“Ha-ha. Benar, kakak Hendra tampan,” tawaku menutup perbincangan sesaat.

Bertepatan dengan akhir tawaku. Hujan di luar mulai reda. Reda hujannya sungguh tiba-tiba. Padahal aku kembali menyukai rintik air yang turun tanpa diminta.

“Kak Indah cantik, sepertinya hujan di luar sudah berhenti. Maukah kau temani aku jalan-jalan ?” tanyanya.

“Hmm, boleh. Aku juga sedang tidak ada kesibukan akhir-akhir ini,” jawabku mengakhiri kunjungan ke kedai kopi ini.

Setelah membayar tagihan kopi yang kami minum, kami keluar dari kedai. Orang-orang yang tadi ada di kedai, kini masih di sana. Tawa mereka sungguh lucu, menggambarkan kebahagiaan yang besar. Aku iri dengan mereka. Sudah sangat lama aku tak tertawa seperti itu.

Kami berjalan bersebelahan bergendengan. Tinggi Hendra tak menyamai tinggiku. Tingginya hanya setinggi bahuku. Baju kami sudah sama-sama mengering. Kini di setiap jalanan yang kami lewati, selalu ada burung-burung gereja yang keluar dari sarang merayakan hujan yang sudah reda. Tanpa kami sadari, burung-burung itu menjadi pokok pembicaraan kami.

“Lihatlah burung-burung itu, Kak! Mereka sangat senang hujan sudah reda.” Tangan ku diangkatnya setinggi mataku. Menunjuk ke arah burung-burung gereja tadi.

“Iya, kak. Burung-burung itu sungguh bahagia melihat jalanan tak lagi menggenang,” jawabku menyetujui pernyataan Hendra.

Tak puas dengan jawabanku, Hendra kembali bertanya. Kini tangannya sudah tak lagi menunjuk burung-burung itu.

“Lalu, pernahkan mereka mencintai hujan seperti kita?” Pandangannya kini kosong melihat ke depan. Entah apa yang sedang dipikirnya.

“Mungkin pernah kakak lelaki tampan saat kemarau misalnya. Semua yang hidup pasti membutuhkan hujan, kak! Mungkin burung-burung itu sama seperti orang yang kita tunggu. Dia hanya membutuhkan hujan sesaat. Namun jika ia sudah tak membutuhkannya, ia akan berpaling dan berbalik membenci hujan.”

“Benar tuan, mungkin mereka hanya cinta secukupnya kepada hujan. Tak seperti kita. Kita benar-benar mencintai hujan dengan sangat. Seperti cinta sungai kepada sawah-sawah yang ikhlas.”jawabku.

Tak terasa, kami sudah sampai di persimpangan tempat kantor pos itu berada. Di depan kantor pos, terdapat kotak surat yang cukup besar.

“Lihat, Kak Kita sudah sampai. Mari kita ke sana, ke kotak surat di sudut persimpangan.” aku berlari menuju kotak surat yang ditunjuknya.

“Hati-hati, Sayangku Indah jalanan licin akibat hujan.” ia menyusul ku. Aku tak menghiraukan perkataan nya aku masih saja berlari tanpa takut tergelincir, karena jalan yang licin.

Sebelum aku memasukkan sebuah amplop yang sudah ia siapkan, dia mengepalkan tangan. Sepertinya ia berdoa kepada Tuhan agar langit membalas semua surat yang ia kirimkan. Aku berdiri di belakangnya. Menunggunya selesai berdoa dan memasukkan amplop putihnya ke dalam kotak surat itu.

“Semoga langit membalas surat ku bersama dengan caranya sendiri. Mungkin langit tak akan membalas surat ku dengan tertulis, tapi kita harus yakin surat itu sampai padanya. Mungkin lewat kehendak Tuhan, langit mempertemukan seseorang yang bisa mencintaiku dengan sungguh dan tak sekedar singgah.” Kata-kata Ku Indah sungguh luar biasa. Mungkinkah orang yang dikirim langit untuk bisa mencintainya adalah aku lalu tiba tiba saat selesai bedoa memasukkan amplop Hendra berkata serius kepadaku?

“Kak Indah yang cantik aku ingin bekata bahwa dri awal aku melihatmu ternyata aku sangat mencintaimu maukah kau menjadi pacarku pendamping hidupku selama nya”ucapnya.

“Iya aku mau “jawabku tak percaya ia menembakku.

“Alhamdulilah jdi sekarang kita sudah resmi pacaran kau memang pendamping hidupku yang selama ini aku cari”ucapnya bahagia.

Setelah kami resmi berpacaran kami berjalan pulang menyusuri jalan yang sama dengan jalan yang tadi kami lalui bersama. Kini sudah tak ada burung-burung yang berkeliaran. Pelangi menghiasi langit kota. Jingga senja menutup hari ini, hari baik di bulan yang tak terlalu buruk.

penulis: Putri Rahmawati


 

Iklan
Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *