BANJARMASIN, shalokalindonesia.com- Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Dema FEBI) UIN Antasari Banjarmasin dengan tegas memberikan tanggapan terkait mahalnya biaya pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam pernyataan yang disampaikan kepada media, Dema FEBI tidak segan-segan untuk mengkritik kebijakan pendidikan yang dinilai semakin tidak terjangkau bagi rakyat.

Dalam tanggapannya, Dema FEBI mengkritik pernyataan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menyebut pendidikan tinggi hanya sebagai _”Tertiary Education”_. Menurut Dema FEBI, pandangan tersebut menunjukkan betapa sempitnya pemahaman pemerintah terhadap pentingnya akses pendidikan tinggi bagi masa depan bangsa.

“Kalau pendidikan tinggi hanya dianggap sebagai ‘tertiary education’, maka mungkin para pejabat kita perlu kembali ke bangku kuliah untuk belajar arti sebenarnya dari pendidikan bagi pembangunan negeri. Atau mungkin mereka hanya menginginkan generasi muda kita hanya cukup sampai tahap ‘primary’ dan ‘secondary’ saja, supaya tidak banyak yang bisa mengkritik mereka di kemudian hari,”_ ujar Husein Fakhrezi (Ketua Dema FEBI Periode 2024-2025) dengan nada sinis.

Dema FEBI menuntut pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah tingginya biaya pendidikan. Mereka menilai pemerintah tidak serius dalam mengupayakan solusi yang dapat meringankan beban mahasiswa dan orang tua.

_”Mungkin pemerintah beranggapan bahwa pendidikan tinggi adalah barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berpunya. Jika demikian, kami sarankan agar mereka mengganti slogan ‘Merdeka Belajar’ menjadi ‘Merdeka dari Belajar’ bagi mereka yang tidak mampu membayar,”_
Syahri Mahmudi (Sekretaris Departemen Advokasi).

Dalam rilisnya, Dema FEBI juga menyoroti ironi alokasi anggaran pemerintah yang lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak mendesak daripada sektor pendidikan.

_”Rupanya, pemerintah kita lebih gemar menghamburkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur megah yang bisa dipamerkan, ketimbang investasi jangka panjang berupa pendidikan generasi muda. Mungkin mereka lupa, jembatan emas pun tak berarti jika tak ada generasi terdidik yang mampu memanfaatkannya,”_ tambah Syahri Mahmudi.

Di akhir pernyataan, Dema FEBI menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal isu ini dan mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia untuk bersatu memperjuangkan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas.

_”Kami akan terus bersuara, bukan hanya demi kami yang sedang menempuh pendidikan saat ini, tetapi juga demi adik-adik kami dan generasi mendatang. Pendidikan bukanlah barang mewah, melainkan hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh pemerintah,”_ Husein Fakhrezi (Ketua DEMA FEBI Periode 2024/2025) dengan tegas.

Dema FEBI UIN Antasari Banjarmasin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan hak pendidikan yang lebih baik dan terjangkau bagi semua. Sebab, pendidikan adalah pondasi utama dalam membangun masa depan bangsa yang lebih cerah dan berkeadilan.

Iklan

Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *