BANJAR, shalokalindonesia.com- Sebuah gempa bumi yang terjadi pada tanggal 13 Februari lalu di Kalimantan Selatan telah menimbulkan kerusakan di beberapa desa di 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Binuang dan Hatungun di Kabupaten Tapin, serta Kecamatan Sambung Makmur, Simpang Empat, dan Telaga Bauntung di Kabupaten Banjar. Kejadian ini disebut sebagai Gempa Bumi Tapin Banjar.

Menurut ahli geologi Dr. Supartoyo dari Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, gempa bumi dengan Magnitudo 4,7 dan kedalaman 10 kilometer tersebut, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, menyebabkan kerusakan terutama di 3 kecamatan di Kabupaten Banjar dengan skala MMI (Modified Mercally Intensity) dari 4 hingga 5 MMI.

“Tidak ada korban jiwa langsung akibat gempanya, tapi karena tertimpa bangunan yang roboh,” ujar Supartoyo.

Supartoyo menekankan perlunya peningkatan mitigasi bencana oleh pemerintah dan masyarakat setempat, dengan memberikan edukasi kepada masyarakat agar selalu siap menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadi.

“Gempa bumi yang terjadi pada 13 Februari 2024 merupakan yang kedua kalinya di beberapa kecamatan di Kabupaten Banjar. Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat, dunia pendidikan, dan dunia usaha,” tambahnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, Warsita, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Yayan Daryanto, menyatakan bahwa adanya gempa yang terjadi di Tapin dan Kabupaten Banjar telah mendorong tim Ahli Geologi dari Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan pemantauan dan penelitian terhadap lokasi gempa. Hal ini bertujuan untuk memastikan hasil penelitian yang relevan dengan Kajian Resiko Bencana (KRB) dan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) yang sedang direview saat ini.

“Diharapkan hasil penelitian ini akan mendukung kegiatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banjar. Jika KRB menunjukkan hasil kajian gempa, hal ini akan mempengaruhi pola ruang, misalnya, wilayah perkotaan yang tiba-tiba menjadi rawan bencana harus dipindahkan,” ungkapnya.

Supartoyo juga menghadapi beberapa kendala selama observasi, termasuk minimnya data, cuaca buruk, dan medan sulit.

Laporan rekomendasi teknis hasil observasi terhadap 5 kecamatan tersebut akan diserahkan kepada pemerintah daerah setelah selesai mengolah data dalam beberapa pekan ke depan. (shalokalindonesia.com/infopublik)

Iklan
Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *