BANJARMASIN, shalokalindonesia.com – Pedagang mainan di Pasar Baru, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, keluhkan penurunan penjualan selama bulan Ramadan sampai libur Idul Fitri 1445 H/2024 M.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mereka tidak menyaksikan adanya lonjakan pembeli seperti biasanya pada saat libur lebaran.

“Biasanya menjelang dan saat lebaran, penjualan kami bisa naik hingga 2-3 kali lipat. Tahun ini, pendapatan kami menurun drastis, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hampir 50% perbandingannya,” kata Gustani, Minggu (21/4/2024).

Saking sepinya, pria berusia 46 tahun ini sebagai karyawan mau tidak mau harus mengurangi stok mainan di toko miliknya dan lebih memilih memperbanyak stok tikar (alas duduk).

“Kami sangat resah dengan kondisi ini dan pedagang mainan yang lain juga merasakan hal sama. Tahun sebelumnya selalu banyak stok mainan dan boneka, saat ini kami justru menguranginya karena perputaran modalnya lama dan lebih memilih menambah stok tikar,” tambahnya.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika anak-anak berbondong-bondong membelanjakan tunjangan hari raya (THR) mereka, kali ini situasinya jauh berbeda.

“Dulu, setelah lebaran anak-anak selalu ramai datang ke sini untuk berbelanja. Tapi sekarang, hanya ada satu atau dua orang yang mampir untuk membeli boneka,” keluhnya, seorang pedagang yang berjualan lebih dari 10 tahun.

Penurunan omzet penjualan tahun ini sudah terlihat dari adanya pergeseran pola belanja masyarakat ke platform online menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan drastis tersebut.

“Mungkin karena pengaruh online, orang-orang jadi malas bepergian. Mereka cukup membeli melalui gawai saja. Ini tentu berdampak besar bagi kami, pedagang seperti kami,” katanya.

Meski demikian, Gustani menegaskan bahwa dirinya akan tetap bertahan. Namun, ia mengakui bahwa persaingan dengan toko online sangatlah sulit. Pasalnya, pedagang online dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif.

“Di toko online, mereka bisa mengambil keuntungan sedikit, misalnya Rp 2.000 per item. Sementara kami di toko fisik tidak bisa mengambil untung sebesar itu, karena harus menutupi biaya operasional,” pungkas Gustani.

Penulis: Nani
(shalokalindonesia.com/NRZ)

Iklan
Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *