BANJARMASIN, shalokalindonesia,comMeskipun bukan hal baru, namun keberadaan Bank Sampah di Masjid Al-Jihad yang diresmikan Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan kesra Setdako Banjarmasin, Dr Machli Riyadi, sangat menarik perhatian kami kalangan anak muda.

Karena ini salah satu ide cerdas dan menginsiprasi dalam mengedukasi langsung masyarakat lewat gerakan mengimplementasikan kebersihan sebagian dari iman.Keberadaan Bank Sampah yang dikelola dengan baik dan bertujuan mulia dalam membantu mengurai masalah sampah di lingkungan sekitar masjid khususnya dan sampah perkotaan pada umum, dinilai akan membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah yang selalu ada di perkotaan modern seperti halnya Banjarmasin.

Langkah Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Lingkungan Hidup mengatasi persoalan sampah memang patut diapresiasi. Karena beragam konsep dan cara ditempuh agar persoalan sampah tidak membikin ruwet kota wisata seperti Banjarmasin, terus dilakukan.

Salah satu menurut hemat kami yang terbaik dilakukan juga adalah program Surung Sintak. Program selain pemanfaatan Bank Sampah ini, merupakan program dari Dinas Lingkungan Hidup dalam menyiapkan angkutan sampah selama 2 jam disatu lokasi karena di wilayah tersebut tidak ada Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah atau TPS ditutup. Program Surung Sintak ini dikhususkan bagi petugas kebersihan “paman gerobak” yang menggunakan gerobak

Namun di satu sisi keberadaan Bank Sampah tidak kalah penting, dalam mengurai sampah-sampah produk rumah tangga. Karena Bank sampah itu merupakan slah satu media pembelajaran tata kelola sampah untuk penyelamatan dan pelestarian lingkungan.

Pemanfaatan Bank sampah ini harus benar-benar optimal di masyarakat, karenanya butuh tim suluh dan edukasi yang berkesinambungan.

Agar program baik ini “bukan panas-panas tahi ayam” , namun akan menjadi sebuah tradisi budaya atau life style kekini-kinian masyarakat mengelola sampah dengan benar dan cerdas.

Sekedar diketahui Bank sampah merupakan usaha pengelolaan sampah melalui pemanfaatan kembali sampah non organik. Sistemnya pun sederhana, meski begitu edukasi berkesinambungan sangat diperlukan, agar masyarakat bisa memetik manfaat dari keberadaannya.

Bank sampah umumnya dibentuk di lingkungan suatu kawasan, kampung maupun desa. Konon Bank sampah pertama didirikan pada Februari 2008 di Desa Badegan, daerah Bantul, Yogyakarta.Ini diklaim sebagai bank sampah pertama di dunia. Segera setelah itu jumlah bank sampah tumbuh dengan pesat.

Selama ini masyarakat masih belum begitu paham dengan Bank sampah. Karena itulah tugas kita bersama mengedukasi dan mengajak perubahan dalam pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga mereka terlebih dahulu.

Dalam Bank Sampah ada proses yang harus diketahui. Mekanisme adalah nasabah membawa seluruh sampah non organiknya ke bank yang diperlakukan seperti tabungan. Transaksi dicatat di buku tabungan yang dipegang oleh nasabah atau alternatifnya dicatat pada buku yang disimpan oleh bank.

Kami teringat pesan inspiring dari Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, yang menyebutkan menabung sampah adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat untuk lebih menghargai sampah sehingga mereka tidak membuang sampah secara sembarangan.

“Melalui gerakan ini masyarakat diajari cara memilah sampah sesuai jenisnya. Sampah yang telah dipilah di rumah tersebut bisa ditabung di bank sampah sehingga menghasilkan tabungan dalam bentuk uang.Hal ini juga memberikan penghasilan ekonomi bagi masyarakat dari pengelolaan sampah,” begitu kata Ibnu Sina dalam berbagai kesempatan.

Jika menilik catatan, maka jenis sampah yang bisa ditabung diantaranya adalah beragam plastik, Besi, Kertas HVS, buku, majalan, Koran, Kardus ,dan lain-lain. Nah sampah-sampah ini di kelola dan dipilah sesuai dengan jenisnnya.Selanjutnya baru dibawa ke Bank sampah untuk dtimbang dan dicatat di buku tabungan milik nasabah.Sama seperti tabungan di bank, uangnya sewaktu-waktu bisa diambil sesuai keperluan.

Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam.

Nah solusi cerdas memberikan manfaat, sudah saatnya kita bergerak agar sampah menjadi manfaat. Penanganan sampah adalah gawian kita bersama dalam satu tujuan tanpa sekat, ,masyarakat luas pun harus terlibat.Demi terciptanya lingkungan kota Banjarmasin yang sehat.

*Penulis adalah Penggiat lingkungan dan Caleg Partai Nasdem DPRD Kalsel Dapil Banjarmasin*

Iklan
Share:

Shalokal Indonesia

Shalokal Indonesia adalah media online dibawah PT Shalokal Mediatama Indonesia dengan kantor di Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *