
Perhatian, Bangunan Harus Perhatikan Building Cod
SHALOKAL. INDONESIA-Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono juga bersuara sama terkait ini.
“Perlu diyakinkan ke depan bahwa kawasan permukiman Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Keerom, perlu memperhatikan bangunan yang tahan gempa, yang mengacu pada building code, terkait dengan sumber gempa di tempat tersebut,” ujarnya dalam pernyataan resmi BMKG pada 9 Februari 2023
Daryono menjelaskan, wilayah Jayapura dan Keerom merupakan wilayah kawasan seismik aktif dan kompleks. Kondisi ini tercermin dari perbedaan mekanisme sumber gempa antara gempa yang terjadi pada 2 Januari 2023 dan gempa terakhir pada 9 Februari 2023.
Gempa yang terjadi awal Januari, merupakan gempa kerak dangkal dengan mekanisme turun atau normal fault. Sedangkan pada gempa terakhir, juga terjadi di kerak dangkal, tetapi merupakan pergeseran sesar .
“Kita melihat, memang banyak sekali aktivitas gempa yang tejadi dan itu menunjukkan batuan di daerah tersebut sangat brittle (rapuh.red), dan itu merupakan daerah yang rapuh sehingga gempa-gempa mudah terjadi,” papar Daryono lagi.
Data BMKG menunjukkan dari 2 Januari 2023 hingga 11 Februari 2023 telah terjadi gempa bumi di wilayah sekitar Kota Jayapura sebanyak 1.174 kali. Sebanyak 172 kejadian di antaranya guncangannya dirasakan oleh warga.
Dia juga mengingatkan, gempa tidak menimbulkan korban jiwa. Bangunan yang roboh justru penyebab munculnya korban, dan karena itu konsentrasi penanggulangan korban harus diberikan pada peningkatan kualitas bangunan agar tahan gempa.
“Untuk mengantisipasi, solusinya adalah masyarakat membangun bangunan yang strukturnya kuat, memiliki besi tulangan standar. Atau kalau belum bisa menyediakan bangunan tersebut, bisa dibangun bangunan ramah gempa, dengan bahan ringan seperti kayu, namun dengan desain yang menarik,” kata Daryono.
Data Dampak BNPB
Sejauh ini, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kerusakan bangunan rumah yang tercatat adalah 15 rumah rusak berat, 1 rumah rusak sedang dan 28 rumah rusak ringan.
“Selain itu 1 kafetaria roboh dan tenggelam, 5 gedung perkantoran rusak, RSUD Kota Jayapura rusak, 1 masjid, 2 gereja, 1 hotel dan 1 supermarket turut terdampak,” kata Abdul Muhari, Ph.D, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Berdasarkan data BNPB, saat ini jumlah pengungsi tercatat 2.136 jiwa yang tersebar di 15 titik di Kota Jayapura, antara lain di kantor Dinas Tenaga kerja, kompleks CV Thomas dan di kantor Bank Tabungan Negara (BTN).
Jayapura juga membutuhkan sejumlah bantuan mendesak, seperti genset listrik, tenda, kasur lipat, makanan siap saji, selimut, tikar dan air mineral. [ns/ft]
Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG. (Foto: VOA)